Berita Terbaru
Terpopuler
Terkomentari
Berita

 Kota Payakumbuh

Harga Pinang Belah dan Gambir Anjlok

Pemerintah Diminta Turun Tangan

Padang Ekspres  Berita Ekonomi  Senin, 20/02/2012 - 11:05 WIB  Fajar Rillah Vesky  7048 klik

Harga komoditi pinang belah, pinat bulat, dan gambir kualitas ekspor di Kota Payakumbuh dan sebagian Limapuluh Kota, dilaporkan anjlok sejak Selasa (14/2) lampau. Ratusan pemilik pohon pinang dan petani gambir menjerit. Puluhan pedagang juga tapakiak atas gejolak harga yang terjadi.
 
Pengurus Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Payakumbuh Rio Enaldo mengatakan, harga pinang bulat dan pinang belah saat ini memang sedang tidak terkendali. Biasanya, satu kilogram Rp7 ribu sampai Rp8 ribu. Sekarang, menjadi Rp4 ribu sampai Rp5 ribu perkilogramnya.
 
Sedangkan gambir, saat ini harganya tidak jelas. "Kalau biasanya, harga gambir Rp18 ribu sampai Rp20 ribu per kilogram. Sekarang, tidak jelas sama sekali. Tergantung toke dan pengumpul, mau membeli berapa. Kita sendiri, saat ini tidak membeli, karena tidak adanya kepastian harga," ujar Rio Enaldo kepada Padang Ekspres, Minggu (19/2).
 
Rio mengatakan, anjloknya harga pinang bulat, pinang belah dan harga gambir di seluruh Sumbar bahkan Indonesia, ditenggarai terjadi karena adanya kebijakan pajak impor gambir di India, terlalu mahal. "Kenaikannya, mencapai 108 persen. Sehingga, ekspor ngeri untuk mengekspor," ujar Rio.
 
"Selain masalah pajak, informasi yang kita dari  eksportir gambir dan pinang jaringan bisnis kita. Pemerintah India saat ini, terus menekan qualiti control gambir. Mereka, kepastian kualitas dari pemerintah. Inilah yang belum ada. Seyogyanya disikapi  serius oleh pemerintah Indonesia,"  ujar Rio.
 
Pengusaha muda ini berharap, pemerintah kabupaten/kota dapat berkordinasi dengan pemerintah provinsi, untuk kemudian menyampaikan kepada pemerintah. "Butuh keberpihakan pemerintah, untuk menyelamatkan gambir dan pinang di Indonesia, khususnya dari Sumbar," imbuh Rio.
 
Sementara dari Kapur IX, mantan Wali Nagari Lubuakalai Irman Teddy yang kini menjadi saudagar gambir mengatakan, harga gambir di Kapur IX masih tetap stabil. "Masih Rp20 ribu, kita masih beli. Di Kapur IX, masih stabil. Bahkan masih ada Rp21 ribu," ucap Irman Teddy, tadi malam.
 
Begitupula di Nagari Halaban, Lareh Sago Halaban, masih sekitar Rp35 ribu sampai Rp40 ribu per kilogram. Hanya saja, gambir di Halaban, menurut informasi yang diperoleh Padang Ekspres, bukan buat ekspor. Melainkan, untuk memenuhi kebutuhan lokal di Indonesia, seperti Jogyakarta, Solo dan Bali. "Makanya, harga gambir Halaban itu masih stabil," ujar seorang pengusaha.
 
Selain untuk kebutuhan lokal, gambir di Halaban juga stabil harganya, karena petani yang hasil produksinya tidak terlalu banyak, masih mengedepankan mutu dan kualitas. "Di sini, memang tidak ada yang dicampur dengan pupuk dan tanah," ujar Wali Nagari Halaban, Amdan. Walau demikian, petani Halaban sejatinya tetap kewalahan, dalam pengadaan alat-alat produksi.
 
Sementara, harga pinang iris untuk kebutuhan lokal Indonesia, seperti NTT dan Papua, dilaporkan masih stabil. Hanya saja, para pengumpul pinang iris seperti di Jorong Sawahlaweh, Nagari Tungkar, Kecamatan Situjuah Limo Nagari dan Nagari Bukiklimbuku, Kecamatan Lareh Sago Halaban, masih tetap membutuhkan penguatan modal dari pemerintah maupun perbankan.  (frv)

[ Red/ ]- Selengkapnya di PadangEkspres,Posmetro padang, Rakyat Sumbar

Bookmark and Share   counter A+ A-
Komentar Berita


Isi form berikut ini untuk mengirim komentar anda terkait dengan berita ini.

Nama : (*dibutuhkan)

e-Mail : (*tidak akan di-publish)(*dibutuhkan)

Komentar : (*dibutuhkan)

Security Code: