Kamis, 24/06/2010 10:54 WIB

Ketika Warga Gunung Tigo Merenda Asa

Yurisman Malalak - Padang Ekspres


Gempa hebat yang mengguncang kawasan Gunuang Tigo Korong Lareh Nan Panjang pada 30 September 2009 lalu, tak urung membuat wajah Gunuang Tigo begitu banyak berubah. Sebut misalnya jalur transfortasi di kawasan itu kini tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya.

Tak heran sejak musibah gempa pemandangan di sekitar kawasan Gunuang Tigo berubah drastis. Bahkan saat ini kawasan Gunuuang Tigo dapat dikatakan berubah menjadi daerah mati. Kini di kawasan itu tidak lagi terdengar deru kendaraan roda empat yang biasa lalu lalang melintasi kawasan yang dipenuhi perkebunan milik masyarakat itu.

Begitu pula rumah rumah penduduk yang ada di kawasan itu juga nyaris telah ditinggalkan penghuninya. Makanya tak heran suasana Gunung Tigo kini tampak begitu lengang, Yang tinggal hanyalah lahan lahan perkebunan penduduk yang ditinggalkan penghuninya.
Kini warga Gunuang Tigo tampak mencoba meretas asa, mereka tak ingin kondisi kampung mereka hilang ditelan sejarah. Mereka berharap kampung mereka  bisa kembali dilewati kendaraan roda empat.

Dengan alasan itulah atas inisiatif beberapa warga setempat mereka mulai mencoba membuka kembali jalur lalu lintas yang ada di kawasan itu yang sempat tertimbun oleh longsoran tanah akibat guncangan gempa  yang melanda daerah mereka.

Siang itu langit di sekitar kawasan Gunung Tigo tampak sedikit dibalut awan tebal. Saat itulah terlihat lima sampai enam orang warga sedang sibuk membersihkan material longsor yang menimbun jalan di kawasan itu. Bahkan mereka sama sekali tidak mempedulikan bahaya yang akan mengancam mereka. Didukung  alat seadanya mereka terus bekerja tanpa kenal lelah.

Saat menjambangi para pekerja di kawasan Gunuang Tigo terlihat pemandangan di kawasan itu tampak begitu mengenaskan. Di mana mana yang terlihat hanyalah bekas longsoran akibat guncangan gempa.

Bahkan pada beberapa titik tertentu longsoran yang terjadi di kawasan itu tampak berubah menjadi tebing terjal, sehingga sewaktu waktu bisa saja mengancam keselamatan siapa saja yang melewatinya.

Makanya setiap pengendara yang melewatinya mesti harus lebih ektra hati hati. Kalau tidak awas bisa saja nyawa sebagai taruhannya. Seperti pengalaman koran ini saat mencoba melewati jalur Gunuang Tigo dengan mengendarai sepeda motor Minggu kemarin.

Di mana, nyali ini sempat dibuat ciut. Pasalnya medan jalan yang begitu terjal dan licin tak jarang membuat posisi kendaraan berubah tidak stabil. Sementara di sisi lain jurang sedalam 100 meter telah siap menunggu.

Memang untuk melewati kawasan Gunuang Tigo para pengendara harus berhadapan dengan tanjakan yang cukup tinggi dengan kemiringan mencapai lebih dari 40 derjat. Belum lagi di kiri kanan terdapat jurang dalam dengan ketinggian ada yang mencapai 200 meter.

Namun tetap saja warga setempat tetap bergeming. Tekad mereka telah bulat yaitu ingin membuka kembali jalur lalu lintas jalan yang sempat tertimbun material longsor akibat guncangan gempa.

Namun ada  cerita menarik saat warga membuka jalan tersebut seperti terjadi Jumat lalu. Di mana saat itu warga berhasil menemukan tiga kerangka tulang belulang korban gempa  yang sempat tertimbun longsoran pada saat gempa terjadi. 

Informasi yang dihimpun koran ini melalui warga, gempa yang melanda kawasan Gunuang Tigo pada tanggal 30 September 2009 yang lalu sedikitnya menyebabkan delapan orang warga yang tinggal di sekitar Gunuang Tigo tewas tertimbun. Saat ini masih ada dua kerangka lainnya yang diduga masih tertimbun longsoran tanah. Karena sebelumnya tiga korban gempa lainnya juga telah berhasil ditemukan.

Berbeda dengan daerah Cumanak yang terletak di kaki Gunuang Tigo, di kawasan ini diperkirakan masih terdapat puluhan warga yang masih tertimbun longsoran tanah. Hanya saja mengingat kondisi medan yang sangat berat akhirnya proses pencariannya terpaksa dihentikan.

Beruntung buah kerja keras warga setempat melalui kegiatan gotong royong yang telah berlangsung selama hampir tiga bulan lamanya, secara berangsur angsur jalur lalu lintas di kawasan Gunung Tigo telah bisa dilewati oleh kendaraan roda dua.

Pengamatan koran ini Minggu kemarin sekalipun kondisi medan jalan di kawasan itu terbilang masih labil dan  berat, namun puluhan pengendara roda dua tampak tetap nekad melewatinya. Bahkan tidak sedikit di antaranya yang nekad melewatinya sembari mengangkut barang barang belanjaan.

Informasi yang dihimpun koran ini melalui sejumlah warga setempat jalan Gunung Tigo memang sangat fital artinya dalam menghubungkan beberapa daerah di sekitar Gunuang Tigo.

Khususnya antara Nagari Gunung Padang Alai Kecamatan V Koto Timur dan Pasar Tandikek Nagari Tandikek Kecamatan Patamuan. Bahkan tidak itu saja jalan itu juga banyak dilewati oleh warga yang datang dari Kabupaten Agam, khususnya dari Kecamatan Malalak Kabupaten Agam.

"Jalan Gunang Tigo ini memang merupakan salah satu penunjang urat nadi perekonomian masyarakat di sini, khususnya bagi masyarakat Gunuang Padang Alai atau Malalak yang ingin berbelanja ke Pasar Tandikek," ungkap Rudi Sontan salah seorang pemuka masyarakat setempat yang ditemui saat bergoro bersama beberapa orang warga.

Meski didukung peralatan seadanya Rudi Sontan mengaku optimis pihaknya tetap bertekad untuk bisa membuka jalan di kawasan itu. Memang sejak jalur transfortasi di kawasan Gunuang Tigo terputus secara total.

Pemerintah Kabupaten Padangpariaman telah mengalihkan arus lalu lintas kendaraan ke jalur lain yaitu melalui Kampuang Paneh. Namun karena jarak tempuhnya terlalu jauh, namun tetap saja ada yang memilih melewati jalur Gununag Tigo.

"Iyo kalau indak ado kendaraan yang lalu lalang di kampuang kamiko, rasonyo iyo taraso bana langangnyo kampuang kami," ujar Akhirman salah seorang warga setempat sembari menyela.

Belakangan kerja keras yang ditunjukkan warga Gunung Tigo mulai membuahkan hasil. Karena saat ini jalan Gunuang Tigo kebali dilewati oleh kendaraan roda dua.

Namun demikian Rudi Sontan dan warga Gunuang Tigo mengaku akan terus melanjutkan pembukaan jalan di daerah itu, sampai akhirnya jalan Gunuang Tigo nantinya benar benar bisa kembali dilewati oleh kendaraan roda empat.

Untuk memuluskan rencana tersebut pernah juga terlintas dalam fikiran mereka untuk meminta bantuan alat berat dari pihak pemerintah khususnya dari pihak PU Kabupaten Padangpariaman. Namun lagi-lagi untuk saat ini mereka belum mau terlalu berharap banyak pada bantuan pihak lain.

Prinsip mereka selagi masih bisa dikerjakan sendiri, nantinya bantuan alat berat dari pemerintah tentu akan datang juga.

"Sebenarnya kalau menggunakan alat berat, mungkin waktu yang dibutuhkan untuk membersihkan material longsor yang menimbun jalan ini tidak akan membutuhkan waktu lama. Mungkin bisa diselesaikan dalam waktu tiga hari. Tapi yang terpenting saat ini kami hanya ingin menunjukkan kepada pihak pemerintah bahwa jalan Gunuang Tigo ini masih berpeluang untuk dibuka. Makanya kami tidak akan menyerah sampai rencana keyakinan kami benar benar bisa terwujud," tekadnya sembari menghisap rokoknya dalam dalam.

Pantauan Minggu kemarin sejak terbukanya kembali jalur lalu lintas jalan di kawasan Gunuang Tigo, tak urung mendapatkan sambutan dari pengendara roda dua yang biasa 2melewati jalan tersebut.

Bahkan tidak jarang di antaranya ada yang secara suka rela merogoh kantong mereka sembari menyumbang ala kadarnya dengan memasukkan uang dalam jumlah tertentu melalui kotak yang disediakan oleh warga yang yang membersihkan jalan di kawasan Gunuang Tigo tersebut.

Amrizal salah seorang warga Gunuang Tigo lainnya kepada koran ini juga mengaku arti penting dari keberadaan jalan di kawasan Gunuang Tigo bagi warga yang tinggal di sekitar Gunuang Tigo.

Apalagi selama ini warga Nagari Gunuang Padag Alai yang berbelanja ke pasar Tandikek selama ini juga banyak melewati jalan tersebut. Begitu pula warga yang ingin bepergian ke Bukittinggi juga biasanya sering melewati kawasan jalan di Gunuang Tigo.

"Kalalu melewati jalur lain, seperti jalur barangan, jarak tempunya sangat jauh bahkan jaraknya bisa mencapai dua puluh kilometer lebih, lain halnya bila melewati jalan Gunuang Tigo yang jarak tempuhnya jauh lebih dekat,"ungkapnya.

Dengan alasan itu pula makanya tak heran masyarakat tetap banyak memilih jalur jalan Gunuang Tigo tak peduli sekalipun jalur transfortasi  di kawasan Gunuang Tigo belum berfungsi secara normal. [*]

Bookmark and Share counter