Padang | Sabtu, 31/07/2010 14:22 WIB

Bukan Hebat PLN, tapi Karena Ditolong Tuhan

JPNN - Padang Today

klik untuk melihat foto
Dahlan Iskan

Sentuhan Jurnalistik Dahlan Iskan di Balik Program PLN Bebas Pemadaman Bergilir

Musim kemarau 2010 ini, di beberapa kota di daratan Sumatera sana tidak terjadi pemadaman bergilir karena suplay energi. Listrik tidak mengalami krisis, padahal setiap tahun Juli-Agustus itu sudah puncaknya byar-pet. Menerapkan jurus apa lagi"

 “Saya ditolong Tuhan!” jawab Dahlan Iskan di hadapan Forum Pemred JP Group di Hotel Ciputra pekan lalu. Lho" Masak Tuhan ikut-ikut mengurus PLN" “Iya, Tuhan baik sekali! Pada saat musim kemarau, yang harusnya bendungan di Maninjau-Sumbar dan Bengkulu itu kehabisan air dan tidak bisa memutar turbin, tahun ini airnya tetap banyak, karena turun hujan!” jelas Dahlan.

Jadi, canda dia, bukan karena kehebatan PLN yang dia pimpin, tetapi semata-mata pertolongan Tuhan. Tapi risikonya harga cabe bertambah pedas" Negeri Sambal ini ikut merana gara-gara krisis cabe" “Lho" Daripada krisis listrik" Lebih baik krisis cabe dong?” lagi-lagi dicap sambil tertawa.  Soal krisis listrik seperti yang terjadi di Riau setiap kemarau itu sudah masuk dalam plan Dahlan.

Itu pula, yang menggunakan solusi mirip industri koran. Dia menjelaskan, pembangkit di Danau Maninjau dan Bengkulu itu berbeda dengan di Inalum, Sungai Asahan, sungai terpanjang di Sumatera dan sekaligus pembangkit terbesar di Indonesia. Maninjau dan Bengkulu debit airnya lebih kecil, jadi saat kemarau tiba, biasanya air menyusut dan tidak mampu memutar turbin sama sekali. Produksi listrik pun macet.

Itu terjadi dari kemarau ke kemarau. Sama dengan kalau di koran, oplah selalu turun setiap puasa, menjelang Lebaran dan seminggu setelah Lebaran! Atau bisnis mengalami masa paceklik di saat menjelang anak-anak masuk sekolah, sekitar bulan Juli. “Saya paling sering marah kalau manajer koran menggunakan alasan seperti itu menjelaskan oplah korannya turun!” paparnya.

Karena itu, Dahlan sudah punya rencana untuk kemarau 2011, 2012 dan 2013 agar problem tahunan itu tidak terulang. “Kelak, pada jam 06.00 sampai 17.00 WIB, menggunakan pembangkit tenaga batubara dan gas. Bendungan ditutup, biar air tertampung lebih banyak. Bendungan hanya dibuka pada jam-jam puncak, pukul 18.00 sampai 21.00 WIB saja, lalu ditutup lagi, begitu seterusnya. Tidak seperti sekarang yang diperkosa terus untuk memutar turbin sepanjang hari,” jelasnya.

Penggunaan listrik hampir di semua daerah di luar Jawa memang cukup menyulitkan. Karena pada jam 17.00 – 21.00 WIB itu permintaannya banyak. Ibaratnya, Jawa Pos kalau hari biasa cetak 500 ribu eksemplar, pada hari libur atau minggu bisa dicetak 2 juta eksp. Kalau koran, mengatur di mesin cetaknya lebih cepat, dan gampang. Misalnya dengan deadline lebih awal. Kalau listrik tidak bisa, karena setiap hari ada permintaan yang drastis antara pagi, siang, sore, malam dan dini hari.

Selain itu, setiap pembangkit punya karakter yang berbeda. PLT Batubara misalnya, tidak boleh dimatikan, karena akan terjadi inefisiensi dan proses menghidupkannya lama. PLT Air, harus deras terjunnya, paling ideal 200 meter. PLT Gas lebih fleksibel, bisa cepat di on-off. “Kombinasi dari 3 pembangkit inilah yang menjadi skema penyelesaian krisis Sumatera,” ungkapnya.

Kenapa tidak pakai PLT Angin" Indonesia kan sering terjadi angin ribut" “Ini pertanyaan yang sama konyolnya dengan mengapa tidak menggunakan PLT Nuklir! Soal PLTAngin, kecepatan angin di Indonesia rata-rata 4-5 kilometer, yang dibutuhkan minimal 7-10 kilometer. Kalau PLT Nuklir, wong krisisnya sekarang kok solusinya pembangkit yang proses pembangunannya saja butuh waktu 6 tahun! Belum lagi pembebasan lahan dan problem sosial yang 4 tahun belum tentu kelar! Masak harus menunggu 10 tahun?” katanya.

Ada juga yang bertanya PLT Arus laut. Itu masih sebatas wacana, belum ada contohnya, belum bisa diaplikasikan. Indonesia tetap harus memperbanyak PLTA, karena paling murah, Rp 600 per kwh. PLTBatubara Rp 600 per kwh. PLT Gas Rp 900 per kwh. PLT Geotermal 800 per kwh. PLT Nuklir Rp 1.600 per kwh. PLT Diesel Rp 1.600 per kwh di Jawa dan Rp 3.000 kwh di luar Jawa. PLT Cahaya Matahari Rp 1.200 per kwh di siang hari dan Rp 3.000 per kwh untuk siang-malam.

“Yang lagi diteliti sekarang adalah PLT Jalan Tol. Di tengah-tengah jalan tol itu diberi turbin, yang bisa berputar kalau ada mobil berkecepatan tinggi lewat. Tapi ini juga tidak bisa diterapkan di Jakarta, wong tolnya macetnya seperti itu" Berbeda dengan jalan tol di Eropa dan AS,” ungkapnya.

Soal kawasan yang belum bisa dialiri listrik, Dahlan menyebut suplay listrik ini seolah berlari sama kencangnya dengan kebutuhan masyarakat. Makin banyak listrik, kebutuhan strom juga makin banyak. Masyarakat juga ingin neko-neko yang berdampak pada permintaan daya baru. Itu yang harus diantisipasi. Tetapi di kampung 70 KK di atas pembangkit Inalum, yang belum berlistrik cukup membuatnya trenyuh. Dahlan pun memutuskan untuk membuat system agar di atas pembangkit itu warganya bisa menikmati listrik.

Ini juga solusi humanis ala wartawan. Karena selama ini tidak mungkin mengaliri listrik di desa yang dekat dengan lokasi pembangkit itu. “Pembangkit itu menghasilkan tegangan 16, lalu disalurkan ke gardu induk, menjadi 150 KV. Lalu diolah lagi, diturunkan menjadi 20 KV. Nah, fasilitas untuk menurunkan 150 KV menjadi 20 KV ini yang tidak ada. Tapi saya sudah putuskan, bahwa warga itu harus mendapat listrik, bagaimanapun caranya. Kalau perlu saya yang biayai,” jelasnya.

Ketika mendapat pertanyaan yang sama di Maninjau dan Bengkulu, yang juga ada satu kecamatan yang belum berlistrik, Dahlan pun menjawab bahwa itu sudah dalam perencanaan. Satu kecamatan cukup banyak, jadi harus menggunakan proses penganggaran, dll. “Kalau pakai duit saya, nanti habis dong?” akunya lagi-lagi sambil tertawa. (don/habis)


Bookmark and Share counter


Berita Terkait

Komentar Anda
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Lokasi :
Komentar :
    kode: